Membangun Organisasi Dari Bertahan Menjadi Unggulan

31/08/2021 21:01:32

Pada saat ini, hampir setiap organisasi di seluruh dunia menghadapi tantangan bisnis yang kurang lebih sama yaitu memastikan kelangsungan bisnis ditengah turbulensi global akibat pandemi, kondisi sosial politik dan teknologi. Di Indonesia sendiri, kondisi pandemic yang telah mendera kehidupan negara selama lebih dari satu tahun, telah memukul banyak badan usaha skala besar, menengah maupun kecil.  Para pemimpin bisnis berjuang mencari strategi terbaik untuk memastikan kelangsungan usaha. Pada saat ini, setiap organisasi dituntut memiliki daya resiliensi yang tinggi, yang mampu menjadikan perusahaan merngubah setiap kendala dan tantangan menjadi peluang. 

Menata Strategi Pengelolaan Produktivitas merupakan salah satu langkah terbaik untuk memastikan kelangsungan usaha dalam situasi krisis saat ini. Produktivitas adalah ukuran yang menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan output berupa produk dan/atau jasa, dibandingkan dengan besarnya input (sumber daya) yang dikeluarkan.

Produktivitas yang baik adalah bila output yang dihasilkan dan kemudian dibeli oleh pengguna (user) semakin banyak dengan menggunakan input minimum.  Hal ini menunjukkan perusahaan memiliki kemampuan tertentu dalam menghasilkan suatu produk yang bernilai besar bagi pelanggan. Kemampuan  ini yang seringkali disebut sebagai keunggulan kompetitif (competitive advantage).

Dalam kondisi pandemi saat ini, banyak perusahaan yang menggunakan strategi bertahan (survival strategy) yang ditunjukkan dengan menurunkan penggunaan sumber daya (salah satunya adalah melakukan efisiensi dalam berbagai hal), yang kemudian berdampak pada penurunan output. Upaya ini dilakukan untuk mempertahankan kelangsungan perusahaan selama beberapa saat ke depan.

Pertanyaan kritisnya adalah apakah strategi tersebut efektif? Strategi bertahan ini efektif untuk menjamin kelangsungan perusahaan selama 1 – 2 tahun ke depan apabila keseimbangan antara output dan input terjaga. Untuk jangka panjang, strategi tersebut harus diikuti dengan  kemampuan para pemimpin dalam membaca arah gerak industri dan posisi perusahaan saat ini, serta menentukan langkah apa yang harus dilakukan untuk mengembangkan perusahaan ke depan.

Para pemimpin diharapkan memiliki kejelian dalam melihat perubahan kebutuhan dan trend pasar dalam industri yang tengah dijalani, yang kemudian diikuti dengan menetapkan langkah untuk memenuhi perkembangan tersebut. Meskipun perusahaan tengah melakukan serangkaian efisiensi sebagai bagian upaya bertahan (survive) dalam kondisi krisis, pemimpin diharapkan tetap mampu membangun kapabilitas organisasi yang baru.

Kapabilitas organisasi yang perlu dibangun:

1. Proses kerja yang lebih efektif. Trend menunjukkan perusahaan yang bertahan adalah perusahaan yang agile dalam menangkap dan menterjemahkan kebutuhan pelanggan.

2. Teknologi untuk mendorong pertumbuhan bisnis. Setidaknya terdapat tiga nilai penting pemanfaatan teknologi dalam bisnis:

a. Untuk otomatisasi dan robotisasi dalam meningkatkan konsistensi, akurasi dan efisiensi proses kerja.

b. Untuk meningkatkan kecepatan dan akurasi dalam membaca data yang kemudian menjadi informasi penting bagi pengambil keputusan di setiap level.

c.   Sebagai media transfer of knowledge.

3. Mempertahankan talent. Tidak dapat dipungkiri  bahwa dalam upayanya menjalankan strategi untuk bertahan, perusahaan dapat mengalami kondisi kehilangan SDM Unggul (talent loss).  Berikut sejumlah hal yang harus diperhatikan agar ketika bisnis perusahaan naik kembali, perusahaan tetap memiliki talent:

a.   Memperhatikan upaya-upaya mempertahankan talent secara menyeluruh.

Fakta yang menarik adalah sistem imbal jasa memang memiliki daya tarik yang kuat untuk mempertahankan SDM, namun sifatnya hanya sementara. Hal ini disebabkan sistem tersebut sangat berkaitan dengan perkembangan gaya hidup seseorang.  Oleh karena itu,  strategi pengelolaan imbal jasa harus diikuti dengan langkah lain seperti pengakuan atas prestasi, kemajuan karir, menciptakan kemudahan dalam kerja, serta membangun iklim kerja yang kondusif.

b.   Membangun Sistem Adult Learning.

Pola belajar dewasa (adult learning) dengan prinsip 70/20/10 tidak hanya ditujukan untuk membangun kemampuan seseorang agar dapat bekerja dengan baik, namun juga mendukung proses transfer of knowledge. Dengan demikian ketika perusahaan kehilangan talentnya, pengetahuan dan keterampilan talent tersebut tetap dimiliki perusahaan dan menjadi panduan bagi karyawan lain dalam menyelesaikan pekerjaannya.

c.    Menghadirkan SDM yang sesuai nilai dan strategi bisnis organisasi.

Prinsip the right man in the right place for the right time tetap menjadi filosofi penting dalam pengelolaan SDM dari waktu ke waktu. Dibutuhkan kejelian dalam menetapkan standar yang relevan dengan nilai dan strategi organisasi, serta pengukuran yang tepat sasaran.

Memastikan kelangsungan bisnis artinya menjamin kelangsungan produktivitas perusahaan dan pertumbuhan di masa mendatang. Menciptakan terobosan dalam pengelolaan organisasi, pemanfaatan teknologi dan pemberdayaan SDM Unggul (talent) dalam ranka mengelola produktivitas merupakan kunci untuk mengubah kedudukan perusahaan dari Bertahan menjadi Unggulan. 

Tags : Inovasi, Management, Assessment, SDM

Artikel Selanjutnya : Meningkatkan Daya Saing Perusahaan Dengan Membangun Soft Competencies SDM

Artikel Sebelumnya


Komentar




The ultimate measure of a man is not where he stands in moments of comfort, but where he stands at times of challenge and controversy.

EVENTS


ARTICLE'S TAGS

Partnership Inovasi Assessment Training SDM Leadership Management